Sabtu, 27 Desember 2014

Selamat malam, berikut adalah salah satu tulisan yg saya buat dan ini bertujuan memenuhi salah satu tugas matakuliah Psikologi Kepribadian II, yaitu menganalisis fenomena sesuai teori Psikologi Kebutuhan Motivasi McClelland. Fenomena yang saya bahas yaitu fenomena.tentang gaya pria di tahun 2014 ini yaitu dengan menumbuhkan bulu di dagu dan kumis atau disebut brewok.

Sebutan bahwa pria brewok (membiarkan cambang dan dagunya penuh dengan bulu) adalah jorok, tidak rapi dan tampang kriminal sudah bukan zamannya lagi. Pria brewokan sedang digandrungi. Bahkan, gaya tampilan yang "tidak bercukur" ini, tengah menjadi tren di Amerika Serikat, Australia dan Indonesia serta ggris. Mereka yang membiarkan dagu dan rahangnya penuh dengan rambut pun, tak hanya para aktor dan selebriti yang memang biasa mengikuti tren, pria biasa dan tidak memandang warna kulit pun, tampil gaya dengan brewok.

Dari deretan aktor dan selebriti yang sedang membiarkan brewok memenuhi wajah mereka adalah antara lain Chris Evans (pemeran Captain America), George Clooney, Bradley Cooper, Ben Affleck dan si "vampire unyu" Robert Pattinson, Reza Rahardian, Ello, dan bahkan anggota boyband.

Simak komentar mereka tentang penampilan brewokan itu. Menurut Chris Evans, dirinya membiarkan brewok tumbuh untuk memberikan penampilan baru. "Orang biasa melihat saya tampil klimis, bahkan tubuh saya terlihat bersih. Mumpung sedang tren, tak ada salahnya tampil baru," katanya.

Sementara itu, George Clooney dan Ben Affleck dalam suatu acara di London Inggris bahkan tampil kompak dengan wajah brewokan. Memelihara brewok bukan hal pertama kali dilakukan Clooney yang memang terlihat semakin matang dengan penampilan seperti itu.

Brewok sekarang menjadi penampilan penting seorang pria, tak terbatas pada usia dan kalangan. Dikampus saya khususnya di USU sudah banyak juga yang memakai style ini.

TEORI McClelland
Teori kebutuhan McClelland dikembangkan oleh David McClelland dan rekan-rekannya. Teori ini berfokus pada tiga kebutuhan  yaitu kebutuhan prestasi (need for achievement), kebutuhan kekuasaan (need for power), dan kebutuhan hubungan (need for affiliation). David Mc.Clelland mendalami Needs Theory dari Henry Murray. Ia meneliti 3 motif utamayaitu prestasi, kekuasaan dan afiliasi untuk meninjau dan mengevaluasi tentang bagaimana sistem motif ini mempengaruhi perilaku. Dan merupakan tiga kebutuhan penting yang dapat  membantu menjelaskan motivasi.
McClelland menjelaskan bahwa setiap individu memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil. Dorongan ini mengarahkan individu untuk berjuang lebih keras untuk memperoleh pencapaian pribadi ketimbang memperoleh penghargaan. Hal ini kemudian menyebabkan ia melakukan sesuatu yang lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Dorong pertama ini dapat disebut sebagai  Need For Achievement yaitu kebutuhan akan pencapaian. Need for Achievement
1.    Keinginan yang kuat untuk bertanggung jawab secara pribadi.
2.    Kecenderungan memilih tingkat kesulitan sedang dalam membuat target dan mengambil resiko.
3.    Keinginan yang kuat untuk mengkonkritkan umpan balik.
4.    Menyukai kegiatan menyelesaikan tugas semaksimal mungkin.
Kebutuhan kekuatan Need For Power merupakan keinginan untuk memiliki pengaruh, menjadi yang berpengaruh, dan mengendalikan individu lain. Dalam bahasa sederhana, ini adalah kebutuhan atas kekuasaan dan otonomi. Individu dengan Need for Power tinggi, lebih suka bertanggung jawab, berjuang untuk mempengaruhi individu lain, senang ditempatkan dalam situasi kompetitif, dan berorientasi pada status, dan lebih cenderung lebih khawatir dengan wibawa dan pengaruh yang didapatkan ketimbang kinerja yang efektif.
Need for Power
1.    Menyukai kegiatan mengarahkan dan mengendalikan orang.
2.    Memperhatikan hbubungan antara pemimpin dan pengikut.
3.    Menikmati berkompetisi.
Kebutuhan ketiga yaitu Need for Affiliation adalah kebutuhan untuk memperoleh hubungan sosial yang baik dalam lingkungan kerja. Kebutuhan ini ditandai dengan memiliki motif yang tinggi untuk persahabatan, lebih menyukai situasi kooperatif (dibandingkan kompetitif), dan menginginkan hubungan-hubungan yang melibatkan tingkat pengertian mutual yang tinggi. McClelland mengatakan bahwa kebanyakan orang memiliki dan menunjukkan kombinasi tiga karakteristik tersebut, dan perbedaan ini juga mempengaruhi bagaimana gaya seseorang berperilaku.

Need for Affiliation
1.    Ingin disukai oleh banyak orang.
2.    Lebih suka bekerjaasama.
3.    Berupaya untuk menjalin hubungan dengan semua orang
4.    Mencari peluang untuk berkomunikasi.
Teori motivasi kebutuhan McClelland merupakan salah satu teori motivasi yang secara luas. teori ini merupakan salah satu teori kebutuhan selain teori hierarki kebutuhan Maslow, ERG, dan teori dua faktor Herzberg. Menurut Robbins dan Judge dari empat teori motivasi kebutuhan, teori McClelland adalah teori yang paling banyak mendapatakan dukungan terutama kaitannya dengan pencapaian dan produktivitas.

Analisis berdasarkan teori McClelland.

Semua tindakan dipengaruhi oleh motivasi jika kita berpegang aada teori McClelland. berdasarkan fenomena style brewok diatas dapat kita ambil motivasi membuat brewok untuk memenuhi need affiliation dan need achievement. karena saya berpendat bahwa mereka ingin disukai banyak orang dengan adanya brewok tersebut. dan juga mereka ingin mendapat perhatian ini adalah salah satu dari need affiliation, dan kalau need achievmentnya mereka ingiin mendapat pengakuan dan  penghargaan dari orang-orang yang suka dengan pria brewok itu dari kaum perempuan maupun pria.


Referensi
http://teorionline.net/teori-motivasi-kebutuhan-mcclelland/
Schultz dan Schultz. 2005. Theories of Personality
www.stmiktuluscendekia.org/life/brewokan-tren-penampilan-pria-saat-ini

Selasa, 15 April 2014

Metode Pendidikan Andragogi

Jumat, 14 Maret 2014

Metode yang dapat digunakan dalam pendidikan orang dewasa sangat banyak. Mulai dari penyajian formal sampai dengan widyawisata. Pengetahuan tentang metode ini sangat penting agar dapat menentukan metode yang sesuai dengan program pendidikan orang dewasa yang dilaksanakan. 
Metode pendidikan orang dewasa ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu (1) kontinum proses belajar, dan (2) jenis pertemuan yang dilakukan dalam pendidikan orang dewasa

1. Kontinum proses belajar sebagai dasar metode POD
Metode pendidikan orang dewasa sebaiknya dipilih berdasarkan tujuan pendidikan, yang pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1.      Membantu orang menata pengalaman masa lalu yang dimilikinya melalui cara baru, seperti konsultasi, latihan kepekaan, dan beberapa jenis latihan manajemen, yang membantu individu untuk dapat lebih memanfaatkan apa yang telah diketahuinya, dan
2.      Memberikan pengetahuan atau keterampilan baru, yakni mendorong individu untuk meraih pengetahuan atau keterampilan yang sudah dimilikinya.
Posisi atau sifat pengalaman belajar dalam kontinum proses belajar dapat memengaruhi beberapa hal berikut ini.
1.      Persiapan dan orientasi bagi proses belajar
2.      Suasana dan kecepatan belajar
3.      Peran dan sikap pembimbing
4.      Peran dan sikap peserta didik
5.      Metode yang diterapkan agar usaha belajar berhasil.

2. Pemilihan jenis pertemuan
Jenis-jenis pertemuan yang umum dilakukan dalam POD adalah sebagai berikut:

1.   Institusi. Mereka yang ikut dalam institusi adalah orang yang tertarik dalam bidang khusus. Dalam suatu institusi, serta identifikasi akan berlangsung pemberian informasi dan instruksi, serta identifikasi masalah dan pemecahannya. Keterbatasan instritusi, yaitu tujuan akhirnya sering tidak tercapai, dikarenakan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam mengorganisasikan suatu institusi dan melihat perkembangannya, ada beberapa perencana yang tidak mau menyisihkan waktunya untuk keperluan itu. Hal ini harus menjadi tantangan bagi tim kerja dan keahlian pemimpinnya.

2.  Konvensi. Peserta datang dari kelompok lokal yang merupakan organisasi orang tua baik dari tingkat kabupaten, provinsi, ataupun tingkat nasional. Salah satu manfaat konvensi adalah memberikan peserta secara individual kesempatan melihat organisasi sebagai suatu badan penting di mana ia mengidentifikasikan dirinya. Jika konvensi dilaksanakan dengan baik, loyalitas peserta akan termotivasi, egonya akan berkurang, dan dedikasinya akan menguat. Kelehan konvensi adalah jika pelaksanaan kurang baik, maka tidak dapat memberikan motivasi kepada peserta. Semakin besar ruang lingkup konvensi, menyebabkan masing-masing peserta tidak saling mengenal.

3.  Konferensi. Petemuan dalam kelompok besar maupun kelompok kecil. Jumlah peserta dalam konfensi mungkin hanya dua orang, atau sampai lima puluh orang atau lebih namun, jumlahnya tidak sebanyak peserta institusi. Keterbatasan konferensi adalah ketidakpastian kehadiran peserta, sulitnya megevaluasi apa yang telah dicapai dalam konferensi dan apa yang akan dikerjakan sebagai tindak lanjut.

4.    Lokakarya (Workshop). Pertemuan orang yang bekerja sama dalam kelompok kecil, biasanya dibatasi pada masalah yang berasal dari mereka sendiri. Peran peserta diharapkan untuk dapat mengahasilkan produk tertentu.

5.      Seminar. Secara umum dikenal sebagai lembaga belajar. Tujuan seminar adalah untuk mempelajari subjek di bawah seorang  pimpinan yang menguasasi bidang yang diseminarkan. Seminar sering berhubungan erat dengan riset. Seminar tidak dapat digunakan secara universal karena beragamnya latar belakang orang.

6.   Kursus Kilat. Institusi yang sangat intensif selama satu hari atau lebih tentang beberapa subjek khusus. Materinya disajikan dalam bentuk modul dan dimaksudkan untuk membantu peserta mengerjakan tugas secara lebih baik sesuai dengan pekerjaannya setelah kembali ke rumah. Kursus tidak terlalu menjadi daya tarik yang universal, sulit bagi perencana untuk mengembankgkan program yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan setiap orang yang terkait.

7.    Kuliah Bersambung. Suatu rangkaian penyajian yang diberikan oleh dosen dengan periode waktu satu kali per hari, satu kali per minggu, atau satu kali per bulan. Selang waktu antara masing-masing kuliah bervariasi. Keterbatasan kuliah bersambunga adalah dosen harus bekerja keras untuk mempersiapkan materinya dan cukup sulit untuk mendorong peserta melakukan tindakan tertentu.

8.      Kelas Formal. Pendidikan orang dewasa biasanya bergabung dengan program sekolah. Mereka yang hadir telah menyatakan minat mereka dan telah mendaftar, membayar uang pendaftaran, dan setuju terikat dengan peraturan program institusi.

9.   Diskusi Terbuka. Salah satu jenis pendidikan orang dewas yang sangat penting. Orang-orang yang berperan aktif yang cukup ahli dalam proses kelompok untuk memanfaatkan teknik secara penuh dalam meningkatkan kebebasan mengeluarkan pendapat.

Metode dalam pertemuan secara lengkap terdiri atas:
1.      Penyajian formal
2.      Teknik diskusi 
3.      Demonstrasi dan laboratorium
4.      Widyawisata
5.      Audiovisual dan komunikasi tertulis

EVALUASI PADA ORANG DEWASA

Evaluasi pendidikan orang dewasa adalah proses menentukan kekuatan atau atau nilai pekerjaan pendidikan atau pembimbing pendidikan orang dewasa. Evaluasi adalah suatu cara mengukur hasil kegiatan pendidikan.

Berdasarkan tingkat formalitasnya, evaluasi dapat dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu:
          1)      Evaluasi informal
          2)      Evaluasi semi formal
          3)      Evaluasi formal atau penelitian ilmiah.
Evaluasi berdasarkan tujuan dapat dibagi menjadi:
          1)      Evaluasi formatif, dan
          2)      Evaluasi sumatif.
Suatu evaluasi mempunyai beberapa manfaat, yakni:
              a)      Menentukan patokan awal
              b)      Mengetahui keberhasilan suatu kegiatan
              c)      Mencetak secara periodic efektivitas suatu program
              d)      Memberikan rasa aman kepada pelaksana tugas
              e)      Memberi bukti yang konkret kepada pihak yang terkait
              f)       Meningkatkan sifat professional kepada penerima evaluasi.
Tujuan evaluasi antara lain:
       a)     Untuk menentukan seberapa dekat peserta didik secara individual dan keseluruhan kelas mencaai tujuan umum yang telah ditentukan
       b)      Untuk mengukur tingkat perkembangan yang telah dicapai oleh peserta didik dalam waktu tertentu
       c)      Untuk menentukan efektivitas bahan, metode, dan kegiatan pengajaran
       d)      Untuk memberikan informasi yang bermanfaat bagi peserta didik, instruktur dan mayarakat
Evaluasi mempunyai prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
         1)      Mempunyai tujuan yang pasti
         2)      Menggunakan tujuan perilaku yang terjangkau dan pasti
         3)      Bukti tentang perubahan dalam diri individu
         4)      Menggunakan istrumen yang berbeda dalam evaluasi
         5)      Kerja sama antara peneliti dan orang yang dinilai kemajuannya
         6)      Tidak perlu mengevaluasi semua hasil pembelajaran
         7)      Evaluasi harus berkesinambungan
Prinsip evaluasi (Frutchey, 1973) yang digunakan untuk meningkatkan mutu pelaksanaan evaluasi antara lain:
           1)      Mengembangkan sikap kritis
           2)      Mengenal bias pribadi
           3)      Melakukan observasi silang untuk menentukan seberapa jauh konsistensinya masalah itu
           4)      Cek lebih jauh untuk menentukan apakah ada perilaku basa-basi
           5)      Pertimbangkan penyebab lain yang mungkin ada
        6)  Berhati-hati untuk tidak hanya membaca observasi yang kita harapkan saja dan mengabaikan interpretasi yang masuk akal
           7)      Dalam mengevaluasi hasil atau produk perilaku, gunakan criteria untuk menilainya
           8)      Cek lebih jauh untuk menentukan apakah hasil atau produk yang diklaim seseorang benar-benar hasil orang itu
           9)      Kenali bahwa banyak perilaku yang saling menutupi satu sama lain
          10)  Pastikan apakah bukti yang kita amati adalah benar-benar bukti yang sebenarnya
          11)  Hindari tergesa-gesa membuat kesimpulan, hendaknya hati-hati dan secermat mungkin

Prosedur evaluasi pendidikan orang dewasa menurut Morgan, et al (1976) terdiri atas lebih kurang tujuh langkah. Ketujuh langkah tersebut tidak selalu diambil dalam setiap mengevaluasi metode, mata pelajaran, atau pencapaian peserta didik. Ketujuh langkah tersebut yaitu:
            1.      Mengecek tujuan
            2.      Memeriksa apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan
            3.      Mengumpulkan bukti
            4.      Menentukan sunber bukti
            5.      Menentukan alat untuk memperoleh bukti
            6.      Menganalisis bukti dan
            7.      Menggunakan hasil

v  Proses Evaluasi
Evalusi demikian hendaknya berlangsung dari hari ke hari sepanjang program pendidikan berjalan. Beberapa cara diuraikan dibawah ini untuk melakukan evaluasi dalam pendidikan orang dewasa, dan cara-cara lain masih dapat dikembangkan secara kreatif oleh masing-masing pembimbing.
1.      Umpan balik. Tiap-tiap peserta  secara bergantian mengemukaakan pikiran dan perasaannya mengenai pelajaran hari itu. Apabila ada peserta yang belum siap atau belum bersedia menegungkapkan umpan baliknya, ia dibebaskan. Lebih baik kalau semua peserta dapat mengungkapkan isi hatinya.
2.       Refleksi. Dengan meminta kesunyian selama lima menit, masing-masing peserta dapat merenungkan arti hari itu bagi dirinya dan apa yang telah dipelajarinya. Setelah selesai merenungkan, masing-masing peserta dapat mengungkapkan refleksinya. Refleksi bersifat subjektif yang khas pribadi, maka tidak ditanggapi oleh pembimbing maupun sesama peserta, apa lagi dibantah.
3.      Diskusi kelompok. Para peserta dapat dibagi dalam kelompok kecil agar lebih mudah dan lebih bebas berbicar. Secara informal para peserta itu memperbincangkan evaluasi masing-masing, lalu menuangkannya dalam sebuah laporan.
4.      Questionnaire. Formulir pertanyaan dapat disiapkan dan dibagikan kepada semua peserta untuk diisi. Ada yang menganggap cara ini kurang efektif dibandingkan dengan tiga jenis terdahulu. Namun apabila pertanyaan-pertanyaan disusun secara pandai, maka banyak keterangan dapat diperoleh, dan peserta mendapatkan tuntutan nyata dalam mengevaluasi dirinya.
Formulir pertanyaan dapat disusun dalam ratusaun variasi, sesuai dengan tujuan pendidikan, komposisi peserta, selera penyusun dan sebagainya.
5.      Tim pengelola. Cara evaluasi proses belajar yang serba guna adalah dengan membentuk tim pengelola (management team). Dari antara peserta dibentuk sebuah tim yang yang terdiri dari satu orang moderator, satu atau dua orang pencatat, dan satu dua orang evaluator. Tim inilah yang diharpakan mengatur lancarnya acara, membuat laporan singkat padat, dan menyusun evaluasi dari acara saharian. Tim pengelola dipegang bergantian tiap hari oleh peserta lain, sedapat mungkin agar semua peserta mendapat giliran.
Dengan menjalankan tugas-tugas tersebut serta berlangsungnya program, para peserta mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan keterampilannya dalam pengelolaan program, pencatatan dan penilaian. Pengalaman tersebut lebih-lebih terasa bermanfaat, karena tim harus menyiapakan laporannya dalam waktu singkat untuk dibacakan pada pagi berikutnya di hadapan seluruh peserta. Manfaat lain ialah, bahwa disamping diktat-diktat, kerja keras yang dibuat pembimbingnya, diperoleh pula catatan tentang jalannya program secara lebih lengkap, termasuk hasil-hasil diskusi menurut tangkapatan peserta yang bertugas sebagai pencatat. Loreksi bila perlu dilakukan, dan kekurangan-kekurangan dapat dilengkapi. Membuat evaluasi adalah keterampilan yang tidak mudah. Perlu ketajaman observasi, kecermatan penilaian dan keberanian untuk menuangkan secara jujur.
Prosedur evaluasi pendidikan orang dewasa menurut Morgan, et al. (1976) terdiri atas lebih kurang tujuh langkah. Ketujuh langkah tersebut tidak selalu diambil dalam setiap mengevaluasi metode, mata pelajaran, atau pencapaian peserta didik. Ketujuh langkah tersebut yaitu:
1) mengecek tujuan,
2) memeriksa apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan,
3) mengumpulkan bukti,
4) menentukan sumber bukti,
5) menentukan alat untuk memperoleh bukti,
6) menganalisis bukti, dan
7) menggunakan hasil.

Dua ilustrasi evaluasi seperti berikut:
      1.  Lembar Saran Akhir Pertemuan yang dibagikan pada akhir pertemuan untuk mengevaluasi jalannya pertemuan, kelebihan dan kelemahan, serta mendapatkan saran-saran perbaikan untuk pertemuan yang akan datang
Contoh pernyataan yang sering digunakan (Morgan, et al., 1976)
1)      Bagaimana pendapat Anda mengenai pertemuan ini? (pilih satu jawaban)
a)      Jelek
b)      Sedang
c)      Ragu-ragu
d)      Baik
e)      Baik sekali
2)      Menurut Anda:
a)      Apa kelebihannya?
b)      Apa kelemahannya?
3)      Apa saran Anda untuk meningkatkan pelaksanaan pertemuan yang akan datang?
        2.  Kartu Penilaian yang digunakan oleh pimpinan dan peserta diskusi untuk mengevaluasi efektivitas diskusi.

Sumber: Suprijanto, H. (2007). Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara

Tugas Andragogi


KONSEP PERFORMA PEMBELAJARAN
METODE KUNJUNGAN LAPANGAN

“COKELAT REA-CHOC MEDAN”

O
L
E
H

KELOMPOK 4


FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
            Kunjungan lapangan merupakan kunjungan terencana yang dilakukan ke suatu tempat di luar kelas. Suatu kunjungan lapangan biasanya berkenaan dengan kegiatan membawa kelompok ke tempat khusus untuk tujuan khusus. Tujuan khusus yang dimaksud bisa untuk mengamati situasi tertentu, mengamati kegiatan tertentu atau praktik membuat sesuatu yang tidak dapat dilakukan di ruang kelas. Kunjungan lapangan biasanya berjangka waktu pendek, mungkin kurang dari satu jam atau tidak lebih dari dua atau tiga jam.
Ada beberapa keuntungan dari metode kujungan lapangan yang membuat kelompok menggunakannya sebagai metode pembelajaran untuk kelas mata kuliah Andragogi, yaitu:
1.      Memberikan kesempatan mengumpulkan pengalaman dan informasi baru
2.      Dapat mengamati gerakan-gerakan dan benda-benda dalam bentuk tiga dimensi
3.      Prosedur dapat diamatai dan dialami yang nantinya dapat diterapkan para peserta
4.      Memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar sambil bekerja
5.      Dapat menumbuhkan minat dan ketelitian pengamatan para peserta
6.      Memperoleh elemen-elemen konkret dan realistis yang tidak didapatkan di kelas
Selain memiliki beberapa keuntungan, metode kunjungan lapangan juga memiliki beberapa kelemahan (Flores, Bueno, & Lapastora, 1983) yaitu:
1.      Tidak cocok untuk beberapa bidang permasalahan
2.      Mahal (waktu, uang, dan tenaga), jika kunjungannya jauh
3.      Memerlukan banyak persiapan
4.      Melibatkan orang lain
Berdasarkan penjelasan tentang keuntungan dan kelemahan dari kunjung lapangan, kelompok memilih untuk melakukan kunjungan lapangan ke tempat pembuatan cokelat Rea-Choc Medan yang berlokasi di Jln. Dr.Mansyur No. 9B. Memilih Rea-Choc sebagai tujuan melakukan kunjungan lapangan karena saat ini keberadaan usaha cokelat tersebut sudah mulai terkenal di berbagai kalangan masyarakat, baik dari kedinasan bahkan juga para mahasiswa. Selian itu juga, lokasi pabrik pembuatan cokelat Rea-Choc tersebut yang mudah untuk ditempuh serta hemat biaya dan waktu sehingga lebih efektif dan efisien untuk dilakukan pada hari Kamis 22 Mei 2014. Menurut Morgan et al (1976), tujuan kunjungan lapangan yang akan kelompok lakukan termasuk dalam kategori pabrik makanan. 


Rea- Choc adalah Perusahaan yang bergerak di bidang usaha kuliner olahan coklat. Rea-Choc berdiri pada tanggal 01 April 2012, dibangun atas dasar keinginan untuk mandiri dan menjadi wirausaha yang cerdas dan berkembang. Berbagai kreasi, ide dan inovasi terus digali guna mencapai tujuan / visi yang jelas.
Penamaan Rea-Choc didasari atas dua hal, yaitu singkatan dari nama itu dan makna yang terkandung di dalamnya. Rea-Choc merupakan singkatan dari kreasi coklat (cREAtion of CHOColate). Penyebutan Rea-Choc dalam  bahasa lokal bermakna sesuatu hal yang selalu membuat keadaan ramai, hal ini bermakna bahwa perusahaan ini pada nantinya akan selalu menjadi perhatian dan favorit para konsumen. Saat ini Rea-choc telah memiliki pasar yaitu pasar oleh – oleh khas Medan yang di pasarkan di toko oleh – oleh dengan menyungsung kemasan cinta budaya Lokal yang terdapat dalam kemasan coklat Rea-Choc.
Rea-Choc menerapkan konsep kemasan yang melambangkan kebudayaan Sumatera Utara  yang harus dipertahankan. Dengan memadukan keduanya, tentu akan menambah daya tarik untuk produk kami. Selain itu, coklat yang digunakan memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada yang ada di pasaran.
·         Jenis produk yang dihasilkan    : Coklat Olahan
·         Karakteristik Produk               : Kemasan “Cinta Budaya Lokal”
·         Bahan Tambahan                    : Selai Markisa, Keju, selai buah aneka rasa, kacang mete, jelly, kopi, dan                                                      lainnya                                                    
·         Keunggulan produk yang dimiliki
1.      Rasa lezat dengan mengurangi penggunaan zat tambahan
2.      Kemasan dengan tema “ Cinta Budaya Lokal”
3.      Bentuk kreasi terbaru dan selalu diperbarui
4.      Bahan baku bermutu

BAB II
RANCANGAN KUNJUNGAN LAPANGAN
Keberhasilan kunjungan lapangan tergantung pada seberapa baiknya perencanaan yang dibuat. Komponen perencanaan yang dibuat oleh kelompok dalam metode kunjungan lapangan ke pabrik cokelat Rea-Choc Medan adalah:
1.      Tujuan/Maksud
·      Memperkenalkan kepada peserta mata kuliah Andragogi tentang usaha home industry Rea-Choc Medan
·   Memperkenalkan kepada peserta mata kuliah Andragogi dengan melihat produk yang dihasilkan oleh home industry Rea-Choc Medan
·    Mengajak peserta mata kuliah Andragogi untuk ikut membuat langsung cokelat di home industry Rea-Choc Medan

2.      Pemilihan Tempat Tujuan
Kelompok memilih lokasi tujuan ke home industry Rea-Choc Medan yang berlokasi di Jln. Dr.Mansyur No. 9B karena saat ini keberadaan usaha cokelat tersebut sudah mulai terkenal di berbagai kalangan masyarakat, baik dari kedinasan bahkan juga para mahasiswa. Selian itu juga, lokasi pabrik pembuatan cokelat Rea-Choc tersebut yang mudah untuk ditempuh serta hemat biaya dan waktu sehingga lebih efektif dan efisien.

3.      Pengaturan dengan Melibatkan Pihak Organisasi yang akan Dikunjungi
Salah seorang dari anggota kelompok kami merupakan salah satu pemilik yang mendirikanhome industry Rea-Choc Medan serta mengelolah langsung proses pembuatan cokelat (produksi) sampai pada tahap proses pemasaran. Sehingga kelompok lebih mudah dalam melakukan kunjungan lapangan dengan adanya keberadaan anggota kelompok kami yang merupakan pihak dari home industry Rea-Choc Medan

4.      Pengaturan Waktu
Kegiatan kunjungan lapangan ke home industry Rea-Choc Medan yang akan dilakukan kelompok bersama dengan peserta mata kuliah Andragogi pada hari Kamis, 22 Mei 2014. Waktu pelaksanaan kunjungan lapangan dimulai pada pukul 11.00 WIB sampai pukul 13.00 WIB. Setiap kelompok (yang beranggotakan enam orang) memiliki kesempatan untuk membuat cokelat selama 20 menit.

5.      Transportasi
Berhubung lokasi kunjungan lapangan yang akan dilakukan mudah untuk dijangkau, maka untuk menuju lokasi home industry Rea-Choc Medan kelompok menyediakan kendaraan untuk 11 orang peserta mata kuliah Andragogi. Untuk 8 orang peserta mata kuliah Andragogi lainnya bisa menuju lokasi dengan naik angkutan umum (angkot) atau sepeda motor dan jika waktu memungkinkan kelompok akan mengusahakan untuk menjemput.

6.      Bahan/Perlengkapan
Dalam kegiatan kunjungan lapangan ke home industry Rea-Choc Medan, alat bantu yang digunakan adalah buku panduan mini yang akan dibagikan kepada seluruh peserta. Sementara untuk perlengkapan/bahan pembuatan cokelat yang akan dilakukan oleh peserta mata kuliah Andragogi telah disediakan langsung di lokasi home industry Rea-Choc Medan.

7.      Pembentukan Kepanitiaan
Ketua        : Tika Ramadhani         (101301018)
Sekretaris  : Tota Fierda Ria          (101301092)
Bendahara : Anggita Windy           (101301103)
Anggota    : Anggi Gurning             (091301100)
                    Rocky Sihite              (101301124)
                    Riska Margolang        (121301012)

8.      Kontribusi
Setiap peserta mata kuliah Andragogi yang ikut dalam kegiatan kunjungan lapangan ke home industry Rea-Choc Medan, akan dikenakan biaya kontribusi sebesar Rp 10.000 /orang. Dengan biaya tersebut, setiap peserta telah mendapatkan kesempatan membuat cokelat sendiri dan membawanya pulang.


BAB III
PELAKSANAAN KUNJUNGAN LAPANGAN
            Kunjungan lapangan akan lebih mudah dilaksanakan jika perencanaan telah disusun secara cermat, kemudian dilaksanakan dengan baik. Adapun prosedur yang akan dilakukan oleh kelompok dalam kegiatan kunjungan lapangan adalah:
1.      Pengenalan
Kunjungan lapangan ke home industry Rea-Choc Medan, akan dimulai dengan membagikan buku panduan mini kepada seluruh peserta. Kemudian ketua kelompok akan memberikan sedikit penjelasan tentang latar belakang dan sejarah berdirinya usaha home industry Rea-Choc Medan serta secara singkat menjelaskan cara memproduksi dan memasarkan hasil produksi.

2.      Menjaga Minat Kelompok
Berhubung karena ruangan untuk membuat cokelat tidak bisa menampung seluruh peserta, maka kelompok akan membagi peserta menjadi tiga kelompok (sesuai kelompok Andragogi). Ketika kelompok satu (terdiri atas enam orang) masuk ke ruangan produksi untuk membuat cokelat, kelompok dua dan tiga menunggu di ruang tunggu sambil membuat packing untuk bungkusan cokelat yang nantinya akan mereka buat. Tiga orang dari anggota kelompok kami akan mendampingi kelompok yang berada di ruang tunggu sambil mengajari cara membuatpacking bungkusan cokelat. Sementara tiga anggota lainnya akan mendampingi kelompok yang sedang berada di ruangan produksi untuk membuat cokelat.
·         Penanggung Jawab ruang produksi
Ketua        : Tika
Anggota    :
Tota, Tika, Anggita, Anggi, Riska, Rocky (tiga orang saling bergantian)
·         Penanggung Jawab ruang tunggu
Tota, Tika, Anggita, Anggi, Riska, Rocky (tiga orang saling bergantian)

3.      Mempertahankan Partisipasi
Kelompok menyediakan waktu bagi peserta untuk memberikan pertanyaan seputar home industry Rea-Choc Medan.

4.      Pengaturan Untuk Kenyamanan Fisik Peserta
Kelompok menyediakan transportasi untuk memberikan kemudahan bagi para peserta dalam menjangkau lokasi home industry Rea-Choc Medan.  Ruangan untuk menunggu dan untuk produksi di home industry Rea-Choc Medan suasanya cukup nyaman dengan adanya kipas angin di ruangan tunggu dan Air Condicioner (AC) di ruangan produksi.

5.      Mengakhiri Kunjungan Lapangan dan Karyawisata
Sebelum meninggalkan lokasi kunjungan lapangan home industry Rea-Choc Medan, kelompok mewakili peserta mata kuliah Andragogi mengucapkan terimakasih kepada pegawai inkubator dan bagian administrasi. Memberikan kesempatan kepada salah  seorang peserta sebagai perwakilan untuk mengucapkan terima kasih kepada kelompok penyelenggara kegiatan kunjungan lapangan.

6.      Tindak Lanjut dan Evaluasi
Evaluasi akan dilakukan di ruangan kelas pada saat perkuliahan setelah kegiatan kunjungan lapangan ke home industry Rea-Choc Medan selesai.

DAFTAR PUSTAKA
Suprijanto, H. 2007. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta : Bumi Aksara