Jumat, 13 April 2012

TESTIMONI UTS

Ujian secara online adalah yang pertama kali bagi saya, dan diawal saya sangat bingung, tapi ya sudahlah, semuanya berjalan dengan rapi hingga saya selesai dalam pengerjaannya. Disini juga dituntut kesabaran karena harus menunggu saolnya satu persatu yang membuat saya agak rajin membuka blog, karena mau tidak mau saya harus melihatnya setiap jam dan berkata, "aduh kapan ini soalnya datang ya, apa soalnya ya, kayakmana ini menjawabnya ya?".
Menurut saya ini juga adalah salah satu pengaplikasian dari paedagogi. dan disini mahasiswa diusung unutuk mencari  serta menjawab pertanyaan dengan aktif. Ini juga adalah termasuk paedagogi modern. Disini mahasiswa akan menjadi aktif karena diberikan kebebasan untuk menjawab sendiri soal tersebut dalam jangka waktu dan fasilitas yang luas. ini adalah termasuk dalam metode learner-center.
UTS online ini juga adalah salah satu pemberian pengalaman dalam pendidikan mahasiswa, menurut saya.
Selain itu menurut saya metode ini memiliki banyak keuntungan, diantaranya hemat waktu, efisisensi tenaga, dan dapat dikerjakan dimana saja
 

Selasa, 10 April 2012

Ujian Tengah Semester 2011/2012

Seni dan Ilmu Mengajar

Apakah seni dan mengajar berhubungan??..........Dilihat dari kedua kata ini, ya pastilah ada hubungannya. kita bisa lihat sehari-hari, waktu guru kita mengajar, waktu dosen kita mengajar, ataupun waktu teman kita presentasi. Dalam proses ajar mengajar pastilah ada seninya, seperti contohnya, adanya dosen yang suka marah-marah, atau guru yang tidak mau tau. 

  Bicara mengenai seni dan mengajar, sekarang ini seperti yang diterapkan di dalam Paedagogi, digunakan sistem "Spreadsheet" dari Edit Grip , dan penggunaan mediaE-Chat via Forum USU Web Login. Apa hubungannya dengan mengajar dan seni?? Yang dinamakan proses pembelajaran bisa terjadi dimana saja dan materi apa saja. Alasan kedua hal itu dimaksukan ke dalam Paedagogi, yaitu seni mengajar dan anak, karena dalam proses tersebut dilakukan Trial dan Error. Cara yang sering dilakukan oleh anak kan. Jadi meskipun subjek yang belajar sudah dewasa, selama proses pembelajarannya masih seperti anak-anak, maka dapat digolongkan sebagai Paedagogi.

Pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning)

Disini tugas pendidik, hampir sama dengan konstruktivis, yaitu sebagai pengarah siswa dalam melakukan/mempraktekkan pengetahuannya. CTL juga berkaitan denga konstruktivis, karena konstruktivis itu sendiri merupakan landasan berpikir dalam pendekatan CTL, maksudnya adalah pengetahuan itu ada dan tersusun dalam pikiran manusia yang kemudian diaplikasikan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari. Inti dari pembelajaran CTL adalah siswa diharapkan belajar melalui “mengalami” atau belajar dari pengalaman.

Pembelajaran Quantum Learning
Prinsipnya, pada strategi pembelajaran ini siswa diberikan sugesti positif ataupun negatif yang dapat mempengaruhi hasil situasi. Contoh pemberian sugesti positif itu misalnya, memasang music saat sedang melakukan aktifitas belajar di kelas, memasang poster-poster menarik yang berisi tentang informasi yang berkaitan tentang materi pelajaran. Dalam hal ini pendidik yang diharapkan adalah guru-guru yang professional dan terlatih dalam seni pengajaran sugesti.

Pembelajaran Quantum Teaching
Quantum teaching ini merupakan pengubahan nuansa belajar yang meriah. Quantum learning ini menekankan bagaimana cara tepat untuk mengajar, bagaimana cara untuk memasuki dunia, baik itu perasaan, pikiran, bahasa tubuh ataupun sikap siswa. Yang bertujuan demi terlaksananya kemudahan dalam sistem belajar-mengajar. Prinsip utamanya adalah untuk membawa dunia kita ke dunia siswa dan sebaliknya dengan maksud agar pendidik dapat memahami dunia para peserta didik.

Pembelajaran Multiple Inteligence
Disini lebih menjelaskan tentang pembagian jenis-jenis kecerdasan, dimana ada sembilan pembagian kecerdasan yaitu:
1. Kecerdasan linguistik
2.Kecerdasan matematis/logis
3. Kecerdasan spasial
4. Kecerdasan kinetis/jasmani
5. Kecerdasan musical
6. Kecerdasan interpersonal
7. Kecerdasan intrapersonal
8. Kecerdasan naturalis
9. Kecerdasan eksistensial

Menekankan bahwa tiap individu memiliki kesembilan kecerdasan di atas, namun tiap individu memiliki kapasitas yang berbeda dalam mengembangkan tiap-tiap poin kecerdasan tersebut. Tiap-tiap kecerdasan tersebut juga saling berkaitan satu sama lain.

Kecerdasan Emosional dalam Pembelajaran
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya secara efektif untuk mencapai tujuan. Keterkaitan dengan proses pembelajran adalah dimana keberhasilan seorang individu bagaimana menyelaraskan antara kemampuan IQ dan EQ nya. Dalam hal ini kecerdasan emosional berperan dalam bagaimana cara kita mengatur/meningkatkan motivasi kita, mengatur bagaimana suasana hati kita agar tidak menjadi tertekan yang dapat berakibat terhambatnya proses pemasukan informasi dalam belajar-mengajar.

paedagogi adalah??

Bagi pendidik, istilah ini pasti sudah tidak asing lagi, dan ilmunya menjadi sebuah acuan dalam praktek mendidik anak. Jika dilihat dari segi istilah, pedagogik sendiri berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu paedos (anak) dan agogos (mengantar, membimbing, memimpin). Dari dua istilah diatas timbul istilah baru yaitu paedagogos dan pedagog, keduanya memiliki pengertian yang hampir serupa, yaitu sebutan untuk pelayan pada zaman Yunani kuno yang mengantarkan atau membimbing anak dari rumah ke sekolah setelah sampai di sekolah anak dilepas, dalam pengertian pedagog intinya adalah mengantarkan anak menuju pada kedewasaan.
Istilah lainnya yaitu Paedagogia yang berarti pergaulan dengan anak, Pedagogi yang merupakan praktek pendidikan anak dan kemudian muncullah istilah Pedagogik yang berarti ilmu mendidik anak.

Lalu apa yang menjadi kesalahpahaman istilah Pedagogi?

Kadang sebagian orang mengartikan bahwa pedagogik merupakan ilmu pendidikan, pemaknaan ini tidak berarti salah namun juga tidak sepenuhnya benar, mengapa? Karena jika ditinjau dari makna pendidikan secara luas maka Pendidikan adalah hidup. Lebih tepatnya segala pengalaman di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu.

Dari pengertian diatas maka bisa dipahami ada beberapa tingkatan dalam pendidikan, sehingga menimbulkan cabang ilmu pendidikan yang dikembangkan para ahli yaitu pendidikan pada anak yang disebut Pedagogik, ilmu pendidikan bagi orang dewasa yang disebut Andragogi serta pendidikan bagi ilmu pendidikan manula yang disebut Gerogogi.

Jelaslah bahwa Pedagogik terbatas pada ilmu pendidikan anak atau ilmu mendidik anak. Maka timbul pertanyaan lain, kapankah seorang anak masuk dalam kawasan pedagogik? Menurut M.J. Langeveld, pendidikan baru terjadi ketika anak telah mengenal kewibawaan, syaratnya yaitu terlihat pada kemampuan anak memahami bahasa, karena sebelum itu dalam pedagogik anak tidak disebut telah dididik yang ada adalah pembiasaan. Sedang batas atasnya yaitu ketika anak telah mencapai kedewasaan atau bisa disebut orang dewasa.

Jadi, pengertian bahwa pedagogik adalah ilmu pendidikan berarti benar dalam pengertian pendidikan pedagogik, namun berarti salah jika mengacu pada makna pendidikan secara luas.
Kemudian, mengapa Pedagogik diperlukan? Padahal pedagogik yang merupakan rangakaian teori kadang berlainan dengan praktek di lapangan? Ada dua alasan yang melandasinya, yaitu bahwa pedagogik sebagai suatu sistem pengetahuan tentang pendidikan anak diperlukan, karena akan menjadi dasar bagi praktek mendidik anak. Selain itu bahwa pedagogik akan menjadi standar atau kriteria keberhasilan praktek pendidikan anak. Kedua, manusia memiliki motif untuk mempertanggungjawabkan pendidikan bagi anak-anaknya, karena itu agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, praktek pendidikan anak memerlukan pedagogik sebagai landasannya agar tidak jadi sembarangan.

Untuk meyakinkan lebih jauh, pedagogik secara jelas memiliki kegunaan diantaranya bagi pendidik untuk memahami fenomena pendidikan secara sistematis, memberikan petunjuk tentang yang seharusnya dilaksanakan dalam mendidik, menghindari kesalahan-kesalahan dalam praktek mendidik anak juga untuk ajang untuk mengenal diri sendiri dan melakukan koreksi demi perbaikan bagi diri sendiri.

Pedagogik perlu dipelajari bahkan jika bisa untuk setiap orang, tanpa terbatas pada identitas sebagai calon guru. Karena sebenarnya kita semua akan atau mungkin anda yang telah memiliki keluarga telah menjadi seorang pendidik. Saya menyadari dan mengetahui pada dasarnya manusia mempunyai naluri untuk mendidik tanpa mempelajari teori, buktinya banyak orang tua berhasil mendidik anak mereka sampai kesuksesan, tanpa mempelajari pedagogik, namun teoripun lahir dari praktek di lapangan.

Lalu apakah dengan mempelajari pedagogik dan mempraktekannya dapat mendidik anak sehingga anak dapat mencapai kesuksesan? Jawabannya adalah bisa, karena tujuan pedagogik adalah memanusiakan manusia, menjadikan seseorang dewasa demi kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Kesuksesan ini jangan terus dikurung dalam artian pada kemapanan materi dari pandangan kita sebagai seorang pendidik sejati, tapi hakikatnya adalah menjadikan kesuksesan itu sebagai keberhasilan dalam menanamkan pada diri seseorang kebahagiaan dalam menjalani hidup dengan mengaplikasikan seperti misalnya mematuhi norma-norma yang ada pada masyarakat. Intinya, menjadikan seseorang menjalani hidup dengan bahagia.

Ujian Tengah Semester 2011/2012

Paedagogi Praktis

                  Mhd. Fadli Sembiring (10-006)
                  Reza Yoga Pratama (10-027)
                  Rocky Sihite (10-124)
                  


      Paedagogi Praktis merupakan ilmu paedagogi yang diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari dengan berlandaskan pada teori-teori Paedagogi. Paedagogi Praktis digunakan agar peserta didik dan pendidik bisa menerapkan dengan baik teori paedagogi, sehingga apa yang menjadi tujuan paedagogi bisa terlaksana. Bagaimana pengaplikasiaannya?

     Dalam kehidupan sekarang, penerapan ilmu paedagogi sudah banyak diterapkan, tetapi masih belum sempurna. Banyak orang beranggapan bahwa ilmu itu sekedar menyampaikan isi otak pengajar kepada peserta didik, tanpa memperhatikan seni mengajar. Sehingga banyak orang merasa seni mengajar itu tidak penting dalam dunia pendidikan. Hal inilah yang menjadi salah satu penghambat perkembangan paedagogi. 
      Faktanya banyak sekolah sekarang tidak menggunakan seni tersebut. Guru tidak peduli tentang cara komunikasi kepada siswa. Guru sekarang membiarkan anak didik bebas melakukan apa saja, sehingga guru-guru sekarang sekedar menjalankan kewajiban profesi tanpa ada makna mendidik di dalamnya. Kebalikannya, peserta didik juga tidak menerapkan paedagogi praktis. Contoh, berdasarkan pengalaman salah satu anggota kelompok, di sekolah SMA tempat dia menuntut ilmu, banyak anak yang memilih kabur dari sekolah daripada belajar. Hal ini menjadi bukti bahwa penerapan prinsip telah gagal dalam sekolah tersebut.
       Kesimpulannya, pada dasarnya prisnsip paedagogi itu diciptakan baik adanya, hanya saja pengaplikasiaannya yang belum sempurna. Jadi, untuk menghilangkan hambatan itu, diperlukan landasan kuat yang akan mendukung perkembangan ilmu paedagogi tersebut.